BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.Latar Belakang
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003 , pada bab 101 pasal 2 mengamanatkan bahwa “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan pembentukan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Selanjutnya UU No 20 tahun 2003 pasal 11 yang mengamatkan bahwa “ pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi”. Pasal ini diikuti dan terkait erat dengan pernyataan yang ada pada pasal 5 dalam undang-undang yang sama “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu”
Bersandar pada paparan tersebut diatas, membicarakan pendidikan maka tidak terlepas dari membicarakan “guru” sebagai salah satu komponen pendidikan. Untuk mewujudkan cita-cita mulia sebagai mana amanat undang-undang mensyaratkan ketersediaan sumber daya pendukung pendidikan yaitu” guru yang profesional”.
Undang-undang No 20 tahun 2003 pada pasal 39 ayat 2 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan guru adalah “tenaga profesional yang bertugas merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran,menilai hasil belajar, melakukan bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama pada pendidik pada tingkat perguruan tinggi”.
Maklumat diatas didukung oleh adanya undang-undang yang mengatur lebih lanjut tentang keprofesionalan guru , yaitu Undang- Undang No 14 tahun 2005 pasal 2 ayat 1 menyebutkan bahwa sebagai tenaga profesional guru harus memiliki kompetensi seperti ; 1) kompetensi pedagogis, 2) kompetensi kepribadian, 3) kompetensi profesional, 4) kompetensi sosial.
Dalam era global , fungsi guru lebih penting dalam meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi , dibandingkan dengan hasil teknologi itu sendiri.Karenanya di butuhkan guru yang profesional dalam bidangnya.
Guru adalah salah satu komponen penting dan kunci pokok bagi keberhasilan peningkatan mutu pendidikan. Untuk itu kemampuan profesionalisme guru perlu ditingkatkan dan di kembangkan dengan berbagai upaya, antara lain melalui pendidikan dan pelatihan dan pembinaan teknis yang berkesinambungan di sekolah, dan wadah-wadah pembinaan profesional seperti KKG dan MGMP.
Peningkatan dan pengembangan kemampuan profesional guru menurut Dirjen Dikdasmen (2002) meliputi aspek :1),kemampuan menggunakan metode dan sarana dalam proses pembelajaran, 2),melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar, 3) kemampuan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, 4),disiplin, 5), dan komitmen guru terhadap tugas.
2.Permasalahan dan Solusi.
Kabupaten Tanah Datar sebagai kabupaten yang juga harus mewujudkan pendidikan bermutu bagi warganya , sejak tahun 2005 hingga 2009 telah melakuka upaya untuk mengoptimalkan profesionalisme guru . Dengan mencanangkan program pendidikan dan latihan dalam forum KKG dan MGMP , melalui kerjasama dengan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan /LPMP dengan Lembaga Perguruan Tinggi Keguruan.
Salah satu materi program yang di kembangkan dalam pendidikan dan latihan pada Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) adalah pengembangan profesionalisme guru yang terkait dengan kompetensi pedagogis (kompetensi yang terkait dengan penataan pembelajaran, merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran, menganalisis hasil penilaian dan menggunakan sebagai perbaikan kualitas pembelajaran).
Serta program yang terkait dengan kompetensi profesional (kompetensi pemahaman materi ajar yang kontekstual,penambahan wawasan bidang materi, penggunaan ITC, dan penulisan karya tulis ilmiah).
Musyawarah Guru Mata Pelajaran PKn (MGMP PKn, adalah organisasi yang menjadi wadah atau forum yang berfungsi sebagai pengembangan profesionalisme guru mata pelajaran yang berada di wilayah kabupaten/kota /kecamatan/gugus/sanggar. Ruang lingkupnya meliputi semua guru mata pelajaran yang di ampu di SMP/MTs, SMA/MA Negeri dan Swasta. Keanggotaannya juga terdiri dari guru Pegawai Negeri Sipil maupun non Pegawai Negeri Sipil, guru honorer atau guru tidak tetap.
Dalam kajian ini MGMP Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah organisasi yang menjadi wadah atau forum yang berfungsi sebagai pengembangan profesionalisme guru mata pelajaran PKn , Ruang lingkupnya meliputi semua guru mata pelajaran yang di ampu di SMP/MTs, keanggotaannya terdiri dari guru Pegawai Negeri Sipil maupun non Pegawai Negeri Sipil, guru honorer atau guru tidak tetap.
Tujuan di bentuknya forum ini adalah dalam rangka mengupayakan secara komitmen terhadap :
a) Peningkatan mutu pembelajaran
b) Optimalisasi implementasi Standar Proses Pembelajaran
c) Peningkatan profesionalisme guru
d) Pengembangan Action Plane secara kreatif , inovatif dan efektif.
e) Pengembangan profesionalism secara berkelanjutan
f) Memanfaatkan hasil refleksi sebagai kerangka dasar meningkatkan profesionalisme
g) School Reform
h) Peningkatan Kualifikasi Akademik Guru melalui program Recognation Prior Learning (RPL).
Secara singkat tujuan di bentuknya MGMP adalah Memperluas wawasan dan pengetahuan guru dalam berbagai hal, khususnya penguasaan substansi materi pembelajaran, penyusunan silabus, penyusunan bahan-bahan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, memaksimalkan pemakaian sarana/prasarana belajar, memanfaatkan sumber belajar, dsb.
Memberi kesempatan kepada anggota kelompok kerja atau musyawarah kerja untuk berbagi pengalaman serta saling memberikan bantuan dan umpan balik. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, serta mengadopsi pendekatan pembaharuan dalam pembelajaran yang lebih profesional bagi peserta kelompok kerja atau musyawarah kerja.
Memberdayakan dan membantu anggota kelompok kerja dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran di sekolah.Mengubah budaya kerja anggota kelompok kerja atau musyawarah kerja (meningkatkan pengetahuan, kompetensi dan kinerja) dan mengembangkan profesionalisme guru melalui kegiatan-kegiatan pengembangan profesionalisme di tingkat KKG/MGMP. Meningkatkan mutu proses pendidikan dan pembelajaran yang tercermin dari peningkatan hasil belajar peserta didik. Meningkatkan kompetensi guru melalui kegiatan-kegiatan di tingkat KKG/MGMP.
Pada tahun anggaran 2005/2006 MGMP PKn menyelenggarakan kegiatan diklat dengan peserta 30 orang dari 30 SMP /MTs yang ada di kabupaten Tanah Datar, dengan salah satu materi diklat adalah PTK. Dari kegiatan tersebut hanya 3 peserta atau 10% yang mampu menulis dan salah satunya adalah penulis yang ditugaskan sebagai panitia pelaksana, sekaligus guru pendamping dalam kegiatan tersebut. Motivasi guru menulis sangat minim dibanding dengan jumlah yang ikut dalam kegiatan.
Rendahnya minat atau motivasi ini menjadi pertanyaan yang cukup memprihatinkan pada penulis selaku tutor guru merasa gagal dalam memotivasi. Jika dilihat latar belakang masa kerja dari peserta yang saat rata-rata sudah mengajar selama 15 hingga 17 tahun, dengan strata golongan dan kepangkatan yang cukup memadai yaitu III d hingga IV a.
Menurut fathorohman (2007;19) motivasi adalah “daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk dapat melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi tercapainya tujuan”. Motifasi juga diarikan oleh Mc Donald sebagai kondisi interen (kesiapsiagaan) . Masih menurut pendapat Mc Donal “ motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Pendapat diatas mengisyaratkan bahwa ada beberapa elemen yang sifatnya mendasar terkait dengan pengertian motivasi yaitu ; perubahan energi, munculnya di picu oleh adanya feeling / ketertarikan pada sesuatu, dan sesuatu yang di inginkan tersebut memiliki tujuan yang jelas dan harus di capai. Secara kajian psycologi motivasi dapat diartikan sebagai sesuatu yang mendorong / daya penggerak seseorang untuk melakukan sesuatu , sehingga tujuan dapat tercapai.
Motivasi sendiri ada dua, yaitu motifasi intrinsik adalah jenis motivasi yang timbul dari dalam individu sendiri tanpa ada paksaan atau dorongan orang lain (atas kemauan sendiri). Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah jenis motivasi yang muncul akibat pengaruh dari luar individu ,apakah karena adanya ajakan,suruhan,atau paksaan dari orang lain atau kondisi, hingga dengan demikian seseorang mau melakukan sesuatu.
Permasalahan diatas sejatinya bukan hanya terjadi pada guru yang tergabung dalam program diklat MGMP PKn saja pada saat itu, pada kegiatan MGMP mata pelajaran lainpun terjadi hal yang sama. Informasi ini penulis peroleh dalam diskusi dengan beberapa rekan sejawat yang juga diberi kepercayaan untuk menjadi “guru pendamping” atau “guru inti”KKG dan MGMP.
Banyak faktor yang menyebabkan tidak termotivasi guru dalam mengembangkan kompetensi yang seharusnya dimiliki sebagai perwujudan dari komitmen terhadap profesinya, penyebabnya bisa bersifat interen dan eksteren,sebagaimana gambaran di bawah ini:
1) Penyebab yang berasal dari eksteren guru :
a) Lingkungan satuan pendidikan tempat dimana guru mengajar kurang memberi peluang dan bimbingan .
b) Program diklat yang kurang memberi peluang pengembangan.
c) Pendekatan pelaksanaan program yang kurang memenuhi sasaran.
d) Action plane program yang kurang tertata secara baik.
e) Jadwal kegiatan bimbingan pada materi PTK yang terlalu singkat hanya beberapa jam/dalam beberapa hari .
2) Secara interen permasalahan dapat disebabkan:
a). Pemahaman guru terhadap materi program sangat minim.
b). Kulifikasi akademis guru.
c). Karakter guru menyikapi profesi.
d). Karakter guru menyikapi kegiatan diklat MGMP.
e). Kurang memiliki sumber atau reverensi yang memadai.
f). Kedisiplinan yang terkait dengan kehadiran dalam kegiatan.
g). Asumsi guru , MGMP hanya untuk menyusun perangkat pembelajaran.
h). Kemampuan tata bahasa penulisan ilmiah minim
i). kurang minat baca,terutama literatur yang menunjang bahan pembuatan PTK.
Dari kondisi diatas penulis berasumsi bahwa faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi guru tidak termotivasi dalam melakukan PTK adalah :
a) Program diklat yang kurang memberi peluang pengembangan.
b) Pendekatan pelaksanaan program yang kurang memenuhi sasaran.
c) Action plane program yang kurang tertata secara baik.
d) Jadwal kegiatan bimbingan pada materi PTK yang terlalu singkat hanya beberapa jam/dalam beberapa hari .
e) Kulifikasi akademis guru
f) Karakter guru menyikapi profesi.
g) Asumsi guru , MGMP hanya untuk menyusun perangkat pembelajaran
h) kurang minat baca,terutama literatur yang menunjang bahan pembuatan PTK
i) Kemampuan tata bahasa penulisan ilmiah minim
Maka pada kegiatan diklat tahun 2006/2007, “revitalisasi” terhadap materi program dan sistem pelatihan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PKn pun dilakukan. Utamanya adalah terhadap program materi diklatnya. Harapannya kedepan agar tercapai optimalisasi profesionalisme guru, terutama yang terkait erat dengan motivasi guru terhadap penulisan karya ilmiah dan penelitian tindakan.
Dengan jumlah peserta yang sama pada tahun lalu , akan tetapi dipergilirkan pada sekolah yang belum terakomodasi dengan kegiatan tahun 2005/2006. Kondisi saat itu adalah adanya kebijakan sertifikasi guru, beberapa peserta adalah guru yang terakomodasi dengan program tersebut. Dalam salah satu penilaian portofolionya adalah tentang melakukan PTK, animo guru terlihat ada peningkatan. Karena pada saat itu 8 orang guru harus menjalani diklat Kesempatan ini penulis upayakan untuk optimal, dengan dibantu oleh nara sumber dari LPMP, pada akhir kegiatan 8 peserta atau 26,7% mampu menyelesaikan sampai pada tahap proposal. Hasil inipun menurut penulis belum optimal karena masih banyak peserta yang belum mampu melaksanakan PTK, bahkan belum mamahami materi tersebut.
i) Pada tahun kegiatan 2007-2008 yang melakukan PTK sekotar 11 orang dari 25 peserta yang terdiri 5 orang guru MTs dan 20 orang guru SMP Negeri atau 44% dari seluruh peserta. Ketidak optimalan ini dikarenakan peserta pada saat itu adalah yang diutamakan untuk guru yang belum mencapai strata pendidikan Sarjana. Kebijakan ini adalah dikaitkan dengan kebijakan”Peningkatan Kualifikasi Akademik Guru melalui program Recognation Prior Learning (RPL)”.
Beberapa upaya telah dilakukan penulis untuk untuk mengatasi permasalahan motivasi menulis PTK terhadap guru peserta MGMP yang belum memahami sama sekali . Utamanya adalah pada pendekatan atau strategi pelatihan. Diantaranya , dengan memberikan tugas mandiri untuk melakukan identifikasi permasalahan yang dialami peserta ketika proses pembelajaran di sekolah, selanjutnya temuan masing-masing guru didiskusikan pada pertemuan berikutnya. Langkah ini ternyata juga belum mampu mendorong motivasi guru. Akan tetapi cara inipun belum berhasil seutuhnya, karena guru baru tahap memahami metodologi PTK, tapi belum memiliki keberanian untuk melakukan.
Permasalah diatas mulai penulis rasakan mulai mendapatkan sedikit pemecahannya, dengan adanya kebijakan Kabupaten Tanah Datar tentang peningkatan mutu pendidikan . Salah satunya adalah adanya Program BERMUTU (Better Education trough Reform Managemen and Universal Teacher Upgrading )yang merupakan kerja sama Pemda dengan Departemen Pendidikan Nasional dan World Bank. Diantara program peningkatan mutu tersebut peningkatan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan melalui program diklat MGMP ,KKG , KKKS ,MKPS, dan MKKS.
Sebagaiumana yang di paparkan oleh Drs. Samsudin dalam Dalam kegiatan Workshop Penyusunan perangkat Supervisi pemberdayaan KKG/MGMP melalui program BERMUTUTgl 24 s.d 29 Agustus 2008 Di PPPTK AGRO BISNIS- Cianjur(2008) salah satu upaya aktual yang dilakukan pemerintah untuk mengoptimalkan kinerja guru adalah memlalui program BERMUTU . Yang di wujudkan dalam bentuk program Peningkatan profesionalisme guru melalui optimalisasi peran dan aktivitas KKG/MGMP. Komponen paket Program BERMUTU terdiri dari PaketPembelajaran (Learning package) terdiri dari
1) Paket KKG/MGMP (panduan fasilitasi oleh tutors)
2) Buku Kerja Guru (panduantugas-tugas yang harusdikerjakan guru – sebagaipeserta program KKG/MGMP – students).
3) SumberBelajar (Learning Resources)
Pendekatandalam Model BERMUTU proses belajar terstruktur dan mandiri dengandan di KKG/MGMP selama 16 minggu, Dirancang untuk menggunakan semua paket pembelajaran yang sudahadadansudahdikembangkanolehPemerintahmaupunLembaga Donor (Lesson Study approach, CLCC, DBE2, NTTPEP, MBE, UT, HYLITE,) dan lain sebagainya , secara terintegrasi untuk meningkatkan kompetensi guru. Diwadahi oleh website sebagai tempat repository materi berbentuk digital dan forum diskusi virtual antar guru, dan dengan tutor/guru pamong.
Komponen Paket Pembelajaran BERMUTU terdiri dari 1), penjelasan tentang proses PTK (CAR) , 2), penerapanproses PTK dalambidangtertentu, 3), keterkaitan antara sumber belajar dengan tugas-tugas guru dalam portofolio guru, 4),langkah-langkah Tutor untuk memfasilitasi dalam setiap sesi tatap muka dan diskusi di KKG/MGMP, 5), tugas yang harusdikerjakan gurudalam workshop atau selama menjalani diklat selama 16 mingguadalah :
a) Rancangan PTK
b) Laporan PTK Kurikulum
c) Laporan PTK BidangIlmu
d) Laporan PTKProses Pembelajaran
Sasaran dari kegiatan kebijakan program BERMUTU ini tidak saja dalam bentuk materi hasil workshop yang berbentuk PTK (CAR), namun diharapkan dari program Peningkatan Kinerja Model BERMUTU ini dapat dihasilkan : 1), terciptanya alat peraga pembelajaran yang bermutu untuk maple terkait, 2), terwujudnya pengembangan profesi dan karier guru serta, 3), penulisan KaryaIlmiah (CAR) dan Lesson Study , 4), tersosialisasikannya, isu-isu actual dalam dunia pendidikan (Sertifikasi guru , KTSP, KTI (PTK), NUPTK, Block Grant ,Forum ilmiah) dan lain sebagainya.
Khusus tentang program diklat MGMP BERMUTU , mata pelajaran yang menjadi kebijakan memang baru pada tataran 4 mata pelajaran (IPA Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia) dengan harapan untuk meningkatkan mutu prestasi hasil belajar Ujian Nasional. Namun dalam hal ini Pemda sebagai penerima program juga harus memberikan sharing pada mata pelajaran diluar UN. Berbagai aturan yang melekat pada kebijakan MGMP BERMUTU juga melekat pada MGMP sharing.
MGMP PKn pada tahun 2008/2009 adalah kelompok yang mendapatkan sharing dari Program BERMUTU , dimana seleksi mulai pada tingkat administrasi pengelolaan managemen kelompok juga menjadi salah satu acuan penilaian. Peraturan yang berlaku pada MGMP BERMUTU juga melekat pada MGMP PKn, termasuk adopsi pada materi program.
Dengan jumlah peserta 25 peserta maka 12 peserta atau 48 % mampu melakukan kegiatan PTK di sekolah masing-masing. Hal ini tidak terlepas dari upaya penulis yang mencoba memodifikasi pendekatan dalam diklat khususnya adalah untuk melakukan PTK. Penulis secara terpisah memberikan bimbingan , diskusi , dengan pengurus MGMP PKn, mereka adalah orang-orang yang secara khusus penulis intensifkan untuk belajar dan belajar secara mandiri, untuk dipersiapkan sebagai pembimbing kelompok di tahun anggaran berikutnya. Ada rencana penulis untuk membentuk tutor sebaya, pada kegiatan tahun berikutnya, sebagai upaya mengatasi keterbatasan yang sifatnya sangat manusiawi dari segala hal yang penulis miliki.
Dari analisa penulis pada dua dekade kegiatan pembimbingan, ditemukan bahwa permasalahan guru peserta yang paling serius adalah “ketidak mampuan menulis ilmiah terkait dengan penerapan tata bahasa yang baik, belum adanya budaya baca khususnya buku referensi yang mendukung metode penelitian kelas, buku referensi guru sangat minim” serta perencanaan dan pndekatan dalam melaksanakan program memiliki hubungan yang sangat signifikan dan ini sifatnya sangat unik dan spsifik, karena karakter guru dan kelompok mata pelajaran juga memiliki pengaruh terhadap keberlangsungan suatu program.
Maka menyikapi berbagai kendala tersebut, dengan nara sumber dari LPMP dan upaya penulis untuk meminta kegiatan Program Pengabdian Masyarakat “ dari UNP pada Jurusan PKn, untuk ikut memberikan pembimbingan pendekatan dalam pembimbingan penulis lakukan dengan pendekatan secara personal adalah upaya yang dilakukan. Memberikan bimbingan secara bertahap, secara bab demi bab, di mulai dari melakukan edit pada penggunaan bahasa yang benar, sampai pada peminjaman buku-buku yang terkait dengan rujukan.
Melakukan kolaborasi dengan mendatangi kesekolah bersangkutan dan kemudian mendiskusikan setiap siklus, dengan membimbing bagaimana meredaksikannya adalah upaya yang penulis termasuk upaya yang di tempuh.
Keterbatasan waktu karena harus berbagianatar tugas mengajar di SMPN 4 X koto, menjadi staf redaksi Jurnal Pendidikan di Kabupaten, membantu rekan-rekan guru pada MGMP Pkn di beberapa daerah di Propinsi Sumatera Barat, serta kegiatan di dalam Forum Ilmiah Guru Pkn kabupaten Tanah Datar , memang rasanya sangat berat sekali dan melelahkan. Namun ketika ada perkembangan bab demi bab, siklus demi siklus yang dilakukan oleh peserta MGMP dalam ber PTK, kelelahan dan kesulitan tersebut dapat terobati.
Struktur program MGMP BERMUTU, dengan materi program diklatnya, penulis rasakan sangat memberi kontribusi terhadap upaya penulis untuk membangun komitmen profesi guru. Karena dari materi program yang di sediakan oleh MGMP BERMUTU dengan Program Belajar Mandiri lewat ITC, penulis sebagai guru pembimbing diluar kebijakan MGMP BERMUTU, memang belum pernah mendapatkan workshop bagaimana sebenarnya pembimbingan bahkan penyusunan program pelatihan versi tersebut.
Semua penulis pelajari dengan melakukan diskusi bersama rekan sejawat yang juga mendapat kepercayaan untuk menjadi tutor dalam kelompok mata pelajarannya.Mencoba membuka situs yang terkait dengan Program MGMP BERMUTU, dan selanjutnya mengaplikasikan program tersebut dengan meminta bantuan nara sumber yang juga membantu kegiatan MGMP BERMUTU, seperti pada materi kajian kritis, lesson study, dan pemanfaatan case study sebagai langkah awal membuka cakarawala guru tentang melakukan refleksi pembelajaran di kelas.
Peluang lain yang penulis rasakan bahwa program BERMUTU mampu memberi pengaruh terhadap minat guru melakukan PTK, adalah dengan sistim kluster yang dijalankan, maka guru yang mendapat kesempatan ikut bergabung dengan MGMP PKn dapat berdiskusi tentang penulisan PTK, dengan rekan sejawatnya yang terakomodasi dalam MGMP BERMUTU. Kemudian ketika ada pertemuan dalam diklat guru mendiskusikannya dengan penulis, tentang apa yang telah mereka peroleh dari rekan sejawatnya ketika melaksanakan diklat MGMP BERMUTU.
Diskusi inilah salah satunya yang memperkaya pengalaman penulis sebagai guru pendamping dalam kegiatan MGMP PKn. Secara tak langsung pengalaman ini memperkaya guru tersebut juga untuk giat melakukan PTK.karena wawasannya semakin luas terhadap metode dan pendekatan dalam melakukan PTK. Asumsinya adalah bila ada 10 sekolah dengan 4 mata pelajaran yang ikut dalam kegiatan MGMP BERMUTU, bila tiap sekolah ada 4 guru mata pelajaran maka ilmu yang diimbaskan kepada guru bidang studi lain yang belum melakukan PTK akan semakin meningkat.
Bahkan kelompok mata pelajaran lain yang belum terakomodasi dengan program sharing juga secara “mandiri” melakukan kegiatan yang pada intinya mengadopsi program MGMP BERMUTU, dengan fokus materi adalah pembimbingan PTK. Mandiri yang penulis maksudkan disini memang dibiayai oleh pribadi guru yang tergabung dalam kelompok mata pelajarannya, untuk melakukan kegiatan diklat sampai tuntas pada melakukan penelitian disekolahnya masing-masing.
Dari tahun 2005 hingga tahun 2009 kegiatan diklat yang dilakukan dengan penulis sebagai pembimbingnya maka pengalaman yang sangatmengesankan dan berharga yaitu pada kegiatan diklat tahun anggaran 2009/2010 , karena dari kegiatan tersebut penulis mendapatkan kesimpulan bahwa lama bertugas, perilaku guru menyikapi profesi, materi program yang diberikan , isu-isu tuntutatan profesi, dan kebijakan yang terkait dengan peningkatan profesi guru , pendekatan yang dilakukan penulis , serta tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap motivasi guru untuk melakukan PTK.
Ini penulis buktikan pada saat melakukan pembimbingan pada tahun anggaran 2009/2010, dari 25 peserta yang terakomodasi dalam program sharing MGMP BERMUTU, terjadi peningkatan jumlah guru yang melakukan PTK yaitu 15 peserta atau 60% menulis PTK. Pembimbingan yang penulis lakukan selain pendekatan personal sebagaimana yang penulis lakukan di tahun 2008/2009 tetap penulis jalankan, bahkan rumah penulis dan perpustakaan SMPN 4 X Koto dimana penulis bertugas adalah tempat kedua selain Gugus kegiatan SMN1 Rambatan kecamatan Rambatan , sebagai sekolah gugus yang sedang dalam rintisan menuju sekolah bertaraf internasiona, karena rekan guru yang penulis bimbing lebih banyak menggunakan literasi yang penulis miliki serta literasi di sekolah penulis.
Startegi kedua yang penulis lakukan adalah dengan membagi 25 peserta kedalam 5 kelompok guru berdasarkan jarak sekolah antar peserta , tiap kelompok tersebut penulis meminta bantuan dari pengurus MGMP Pkn yang telah ditunjuk pada tahun 2008/2009 lalu untuk menjadi ketua kelompok atau pembimbing . ternyata strategi inlah yang membantu terwujudnya peningkatan mencapai 60% tersebut.
Namun demikian faktor program dan kebijakan juga berkontribusi dalam memotivasi pada tahap ini. Kebijakan tentang keharusan guru melakukan PTK sebagai upaya pengembangan profesinya, yang disangkutkan dengan tunjangan profesionalisme guru, serta adanya program yang dapat diadopsi yaitu MGMP BERMUTU, maka terjadi peningkatan kegiatan pada kelompok-kelompok guru untuk aktif menggerakkan MGMP mata pelajarannya masing-masing dengan kegiatan Penulisan KTI dan PTK.
Jumlah 15 peserta atau 60% adalah angka yang belum terlalu signifikan dibanding dengan jumlah guru PKn yang ada di kabupaten. Berdasarkan data yang telah dikumpulkan jumlah guru SMP /MTs pada bidang studi ini adalah sekitar 80 orang (ini adalah data guru yang tergabung dalam Forum Ilmiah Guru PKn ) Kabupaten Tanah Datar. Demikianlah yang dapat penulis paparkan tentang pengalaman berharga yang dialami selama mendapatkan tugas dan kepercayaan dari rekan guru mata pelajaran PKn di kabupaten Tanah Datar untuk mengelola MGMP SPM/MTs bidang studi PKn, selama menjalankan kegiatan dengan program “sharing” MGMP BERMUTU.
3. Kesimpulan dan Rekomendasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar