KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan hidayahnya kepada penulis untuk dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Membangun Rasa Percaya Diri (Self Convident ) Guru Pemandu Diklat MGMP PKn Melalui Pee-Teaching” (Studi Refleksi Diklat MGMP PKn Program Shering / Replika MGMP BERMUTU Tahun 2010/2011)”.
Makalah ini ditulis sebagai refleksi terhadap optimalisasi dan tujuan organisasi menyikapi berbagai kendala yang dialami, terkait dengan regenerasi personil atau pengurus organisasi yang memiliki kemampuan menjadi pemandu dalam kegiatan Diklat MGMP PKn.
Makalah ini terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak , serta sumbang saran dari seluruh rekan sejawat sesama guru PKn Kabupaten Tanah Datar.Tak lupa pula sumbang saran dari sumber-sumber yang berkompeten dilingkungan pengawas sekolah Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Datar. Untuk itu melalui tulisan ini penulis berkenan menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak tersebut diatas :
1. B. Zainal Arifin,SPd. selaku Kepala Sekolah SMPN 4 X Koto.
2. Segenap Jajaran Pengurus MGMP PKn SMP/MTs kabupaten Tanah Datar Periode 2010 / 2013.
3. Segenap rekan sejawat yang tergabung dalam Forum Ilmiah Guru PKn Kabupaten Tanah Datar ( FIG PKn )
4. Drs. Edwar. MPd. Selaku Kepala Sekolah SMPN 1 Rambatan. Sebagai Pusat Gugus MGMP PKn SMP/MTs kabupaten Tanah Datar.
5. Yuyu Mulyati, S.Pt,MPd. selaku Pengawas SMK kabupaten Tanah Datar.
6. Rekan-rekan sejawat DCT MGMP BERMUTU Kabupaten Tanah Datar.
Semoga segala bantuan baik berupa sumbang saran dan kritikan yang diberikan kepada penulis mendapatkan pahala dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.Penulis berharap segala temuan yang terkait dengan ketidak tepatan , baik dalam penulisan maupun dalam pelaksanaan program dapat menjadi masukan yang bermanfaat dalam upaya regenerasi serta mengoptimalkan organisasi sebagai wadah memupuk kreatifitas dan inovasi guru dalam menjalankan profesionalisme.
Batusangkar, 20 Maret 2011
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Musyawarah Guru Mata Pelajaran PKn (MGMP PKn ), adalah organisasi yang menjadi wadah atau forum yang berfungsi sebagai pengembangan profesionalisme guru mata pelajaran yang berada di wilayah kabupaten/kota /kecamatan/gugus/sanggar. Ruang lingkupnya meliputi semua guru mata pelajaran yang di ampu di SMP/MTs, SMA/MA Negeri dan Swasta. Keanggotaannya juga terdiri dari Guru PNS maupun Guru non PNSl, Guru Honorer atau Guru Tidak Tetap.
Dalam kajian ini MGMP Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah organisasi yang menjadi wadah atau forum yang berfungsi sebagai pengembangan profesionalisme guru mata pelajaran PKn , Ruang lingkupnya meliputi semua guru mata pelajaran yang di ampu di SMP/MTs, keanggotaannya terdiri dari Guru PNS maupun Guru non PNS, Guru Honorer atau Guru Tidak Tetap.
Priyono (1999;19) menyatakan bahwa dalam dunia pendidikan , salah satu hambatannya yang terbesar adalah pengembangan sumber daya guru (sumber daya manusia) adalah yang berjalan sangat lambat. Maka salah satu strategi yang dilakukan untuk antisipasi adalah melalui optimalisasi kinerja MGMP dengan segala alasan yang menyertainya.Salah satunya adalah tujuan dari keberadaan MGMP PKn.
Tujuan di bentuknya MGMP PKn adalah memperluas wawasan dan pengetahuan guru PKn dalam berbagai hal, khususnya penguasaan substansi materi pembelajaran, penyusunan silabus, penyusunan bahan-bahan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, memaksimalkan pemakaian sarana/prasarana belajar, memanfaatkan sumber belajar. Memberi kesempatan kepada anggota kelompok kerja atau musyawarah kerja untuk berbagi pengalaman serta saling memberikan bantuan dan umpan balik.
Pengambangan musyawarah guru mata pelajaran atau MGMP telah dilakukan melalui berbagai upaya, seperti revitalisasi program kegiatan yang terkait dengan pendidikan dan pelatihan, revitalisasi pendekatan dan strategi diklat, adopsi dan implementasi model diklat profesionalisme guru berbasis MGMP sebagaimana program MGMP BERMUTU. Fenomenanya dapat dilihat dari tagihan –tagihan yang dibebankan sebagai hasil dari pembelajaran dalam diklat, khususnya yang terkait dengan perumusan dan penyusunan Lesson Plan atau RPP telah menggunakan pendekatan dan metode yang beragam. Meski belum berpengaruh pada peningkatan hasil atau mutu tamatan dan lulusan secara optimal.
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP ) selain telah banyak berperan dalam peningkatan profesionalisme guru, namun disatu sisi masih meninggalkan berbagai kesan yang menimbulkan berbagai kritik . Kritikan terhadap eksistensi dari organisasi profesi inipun tidak hanya berasal dari pihak guru sendiri, guru inti , namun juga dari kalangan pemerhati pendidikan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa usaha yang sifatnya sinergi antara lembaga pemerintah, lembaga lain baik nasional dan internasional, dan masyarakat telah dilakukan untuk meningkatkan kinerja dari kelompok kerja guru tersebut. Secara nyata penulis paparkan adalah dianggarkannya program kegiatan berbasis MGMP melalui berbagai sumber dana .
Bahkan pengembangan dari profesionalisme guru berbasis kelompok kerja juga dilakukan dengan memanfaatkan sumber dana Loan baik yang berupa hibah maupun hutang lunak dengan pihak luar negeri pun menjadi suatu kebijakan. Ini adalah gambaran tentang perhatian pemerintah yang tidak setengah hati dalam meningkatkan keprofesionalan guru. Dengan harapan pendidikan dan mutunya meningkat, yang akan bermuara pada peningkatan mutu sumber daya manusia.
Namun dibalik keberhasilan yang telah dicapai dalam upaya peningkatan kinerja dan keberhasilan peningkatan profesionalisme guru berbasis MGMP ternyata masih menyisakan berbagai kritikan. Kritikan tersebut berkisar pada anggapan tentang masih belum optimalnya MGMP dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Kritikan tersebut bukan hanya berasal dari kaum guru akan tetapi pengamat pendidikan juga menyatakan kritikan yang sama.bahwa MGMP belum mampu menjadi organisasi independen yang secara optimal memperbaiki proses pembelajaran dan mutu pendidikan. Dari sinilah penulis beranjak untuk mencermatinya dan memaparkan lebih lanjut. Hal ini adalah untuk melakukan refleksi kembali tentang keberadaan dari organisasi ini dan fungsinya kedepan agar lebih optimal.
Berbicara tentang optimalisasi tujuan organisasi tentunya tidak terlepas dari sumber daya pendukung untuk menggerakkan organisasi. MGMP PKn sumber daya manusia penggeraknya adalah individu pendukung struktur organisasi atau yang disebut atau dikenal dengan pengurus MGMP. Maka dalam menetapkan strutur dan anggota pendukung struktur ditetapkan dengan berbagai prasayarat. Tujuannya adalah agar organisasi ini mampu berfungsi optimal.
Penentuan dan penunjukan kepengurusan MGMP PKn secara habitual selalu ditetapkan oleh anggota atau guru mata pelajaran itu sendiri melalui rapat terbuka, yang dihadiri oleh semua guru PKn yang mengajar pada jenjang SMP/MTs di kabupaten Tanah Datar, serta mendapatkan persetujuan dari Dinas Pendidikan sebagai legalitasnya.
Penempatan personil tentunya menyertakan berbagai kriteria atau syarat-syarat yang telah ditentukan oleh organisasi , dan jangka waktu kepengurusan yang telah ditetapkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga , mendapat legitimasi dinas terkait seperti 1) masa kerja guru, 2) pengalaman mendapatkan diklat yang telah memadai , 3) kemampuan berkomonikasi, 4) kemampuan managerial, 5) kemampuan menjadi mediasi, 6) memiliki visi pengembangan terhadap organisasi, 7) strata pendidikan , 8) memiliki karakter yang positif , 9) menjadi figur bagi anggotanya, 10) inovatif, 11) kreatif, 12) loyalitas yang tinggi, 13) kehidupan keagamaan yang mantap, dan 14) telah mendapatkan minimalnya program diklat baik tingkat propinsi maupun tingkat nasional untuk materi Training of Trainer atau TOT sebagai syarat yang dianggap penting.
Langkah yang ditempuh diatas tidak secara keseluruhan dapat terpenuhi, idealnya memang pengurus MGMP atau individu yang memiliki kapasitas dijadikan sebagai penggerak organisasi memiliki 14 persyaratan tersebut. Namun tentunya yang ideal sulit untuk mencapainya, namun mendekati ideal bila sudah terpenuhi, menurut hemat penulis adalah suatu gambaran yang mendekati kesempurnaan.
Apa yang penulis fikirkan adalah berdasarkan pada pemikiran bahwa organisasi sosial seperti MGMP Pkn, adalah organisasi yang digerakkan dengan” pendekatan saling isi “atau menyadari bahwa “multikultural” itu keberadaannya bukan saja terletak pada keberbedaan pada ras , agama, suku , serta adat budaya. Multikultural juga menyangkut perbedaan kecerdasan, ketrampilan, serta kompetensi yang dimiliki seseorang individu.
Sebagaimana karakteristik mata pelajaran PKn serta tujuan Mata pelajaran PKn salah satunya adalah menumbuhkan sikap peserta didik yang menyadari betapa indahnya menjadi manusia antar budaya , yang mampu menghargai dan mengakui perbedaan. Konsep inipun dijadikan sebagi platform dalam menetapkan anggota atau panitian pengurus MGMP PKn.
Secara tak langsung langkah yang ditempuh diatas menggambarkan bahwa MGMP Pkn dapat dijadikan sebagai lahan bagi pengembangan wawasan multikultural untuk meningkatkan integritas bangsa melalui lingkungan yang kecil.Meski dalam pelaksanaannya tentunya membawa implikasi berbagai kendala , namun tentunya bagaimana menyikapi kendala adalah kunci keberhasilannya.
Dalam setiap kegiatan diklat yang dilaksanakan oleh MGMP PKn kepengurusan intilah yang menjalankan program diklat tersebut. Mulai dari meyusun program kerja diklat, menetapkan tujuan dan pointer-pointer penting yang harus diwujudkan dalam setiap program diklat, menetapkan pemateri, menyusun anggaran semuanya dilakukan oleh pengurus dengan prinsip “right gun on the right hand”. Tanpa terkecuali dalam melakukan kegiatan pemanduan atau pembimbingan diklat MGMP PKn .
Khusus mengenai pembimbingan dan pendampingan dalam kegiatan program diklat, telah diatur sedemikian rupa sehingga “materi apa dan akan disampaikan oleh siapa”, sudah jelas tercantum dalam time scedult nya. Dan idealnya setiap panitia yang ditunjuk untuk menjadi pengurus tentunya telah memiliki dan memenuhi prasyarat sebagai mana yang penulis paparkan diatas.
Pengalaman emperis yang selama ini penulis dapatkan adalah ketidak siapan pemateri yang berasal dari interen pengurus, sehingga terkesan sekian materi diklat hanya dibebankan pada beberapa personil saja. Sementara yang mengemban tugas penyampai materi tersebut selalu beralasan “kurang bahan, tidak siap materi yang akan dipresentasikan , serta tidak memiliki kepercayaan atau keberanian tampil membimbing, diikuti oleh alasan klasik lainnya yang terkesan kurang dapat dicerna logika atau mengelak pada tugas yang diemban.
Atau adanya kondisi yang memberi kesan setiap kegiatan diklat MGMP selalu muncul narasumber atau pemateri dadakan, terkesan kurang persiapan yang matang dari panitia penyelenggara. Kondisi pemateri dadakan tersebut kurang memiliki kesiapan terhadap materi bahkan kurang memadai pengalamannya dan pengetahuannya terhadap materi tersebut. Hal ini tentunnya menjadikan program tidak berjalan efektif dan efisien.
Akhirnya seperti pepatah yang mengatakan “ show must go on” , maka penulis sebagai penyelamat dan penanggung jawab kegiatan atau organisasi menjadi pemateri pengganti. Kondisi ini sebenarnya bukan penulis alami sendiri , akan tetapi juga dialami oleh rekan sejawat yang juga mengemban tugas sebagai ujung tombak utama organisasi atau Ketua MGMP/KKG .
Berdasarkan kondisi realitas dilapangan yang demikian penulis hadapi , sehingga penulis sebagai penanggung jawab program kegiatan berkeinginan melakukan suatu perubahan atau pengembangan pembelajaran bagi rekan guru yang memang telah memiliki pengalaman diklat TOT Pengembangan Kurikulum .
Guru tersebut harus memiliki keberanian untuk tampil sebagai pembimbing kegiatan . Meski ilmu untuk melakukan hal itupun penulis akui masih jauh dari segala kesempurnaan. Dengan segala keterbatas yang ada, penulis berupaya untuk melakukan pengkaderan dalam pendapingan kegiatan pemandu guru MGMP PKn untuk tahun-tahun kedepannya.
Upaya ini penulis lakukan juga dilatar belakangi oleh sangat minimnya kegiatan –kegiatan yang menyelenggarakan TOT bagi mata pelajaran yang tidak di Ujian Nasionalkan, karena program Pemberdayaan Kompetensi Guru berbasis Kelompok Kerja yang diselenggarakan oleh BERMUTU juga tidak mengakomodasi untuk mata pelajaran tersebut. Kegiatan BERMUTU dengan persiapan pelaksanaannya dilapangan hanya mempersiapkan DCT dan NCT melalui diklat , hanya untuk guru-guru yang mengajar pada mata pelajaran yang di Ujian Nasionalkan saja.
Berdasarkan pada kondisi yang ditemui hampir dalam setiap kegiatan diklat terjadi hal yang sama, maka penulis berkeinginan untuk memperbaiki keadaan ini dengan mencari solusi yang kiranya tepat untuk mengatasi persoalan . Sehingga dalam kegiatan penyelenggaraan diklat selanjutnya seluruh rekan sejawat yang telah dibentuk dan ditunjuk untuk memangku tugas pendampingan atau pemanduan guru dapat menjalankan tugas tersebut dengan sukses. Upaya yang akan dilakukan adalah melelaui pendekatan peer-teaching atau pendekatan belajar melalui rekan sejawat.
Sejatinya sangat beruntung sekali bagi guru mata pelajaran lain yang telah pernah mendapatkan TOT dari Diknas dan Kementrian Pendidikan Nasional, yang notabene juga sangat jarang diselenggarakan. Bagi yang memiliki itikad baik untuk berbagi akan sangat membantu sekali bagi rekan-rekan yang belum pernah mendapatkan pengalaman tersebut.
Penulis adalah termasuk salah satu dari beberapa guru yang beruntung mendapatkan pelatihan atau TOT Pengembangan Kurikulum , baik ditingkat Daerah maupun ditingkat Nasional. Upaya untuk mendapatkannyapun bukan hal mudah karena tentunya guru harus memperlihatkan kreatifitas dan aktifitas yang optimal terhadap pekerjaan atau profesi yang diemban. Serta memiliki komitmen untuk menularkannya pada teman-teman lainnya.
Dilandasi oleh keinginan berbagi itulah maka penulis memiliki keinginan yang kuat untuk membimbing rekan sejawat yang telah mendapatkan kesempatan pernah mendapatkan diklat TOT untuk mempraktekkan di dalam kegiatan diklat MGMP . Sehingga biaya negara yang telah dikeluarkan untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut menjadi efisien dan efektif .Artinya anggaran negara yang telah dihabiskan tidak sia-sia begitu saja. Sebagai warga negara yang baik, yang cinta bangsa serta tanah air ini tentunya kita tidak ingin hanya sebagai parasit bagi negara atau beban negara.
Metode atau pendekatan yang diterapkan ini tidaklah sulit sebagaimana yang digambarkan secara utuh tentang “pembelajaran melalui rekan sejawat “ dengan asumsi adanya seseorang yang dianggap mampu kemudian melakukan pembimbingan secara langsung kepada rekan yang belum memiliki pengetahuan. Peer - teaching disini lebih mengarah pada kegiatan yang bernuansa peer- mediasi /peer-mediation.
. 1.2.Perumusan dan pembahasan makalah
Dalam makalah ini yang akan dipaparkan adalah berbagai masalah yang terkait dengan 1) Profil Kepengurusan MGMP Pkn ditinjau dari program diklat yang telah dialami atau dimiliki , strata pendidikan serta masa kerja, 2) mekanisme yang ditempuh dalam mengoptimalkan kinerja anggota pengurus MGMP PKn Kabupaten Tanah Datar, 3) langkah-langkah yang ditempuh dalam membangun kepercayaan diri mengemban tugas pembimbingan atau pemandu kegiatan diklat MGMP PKn Kabupaten Tanah Datar, 4) model membangun kepercayaan diri yang efektif yang diterapkan melalui Program MGMP Pkn kabupaten Tanah Datar.
1.3. Tujuan penulisan/pemaparan.
Tujuan penulisan makalah adalah mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk membangun rasa percaya diri atau self convident guru untuk melakukan kegiatan pemanduan dan pendampingan dalam kegiatan MGMP PKn SMP/MTs Kabupaten Tanah Datar melalui pendekatan / metode tutor sebaya atau peer-teaching.
Selanjutnya menginformasikan/ mensosialisasikan kepada MGMP mata pelajaran lain tentang mekanisme yang ditempuh dalam mengoptimalkan kinerja anggota pengurus MGMP . Memberi masukan tentang upaya yang dapat ditempuh untuk membangun kepercayaan diri (self convident) mengemban tugas pembimbingan atau pemandu kegiatan diklat MGMP . Menginformasikan bahwa pendekatan sederhana ternyata mampu menjadi sarana untuk membangun self convident guru.
Dengan harapan MGMP sebagai wadah untuk mengembangkan profesionalisme guru berbasis kelompok kerja dapat terwujud di MGMP PKn. Selanjutnya pada tahun-tahun mendatang semakin banyak anggota MGMP PKn yang memiliki ketrampilan dan keberanian menjadi guru pendamping pada kegiatan diklat MGMP Pkn. Artinya ada alih generasi dan organisasi memiliki kader-kader sebagai guru pemandu untuk mata pelajaran PKn.
1.4. Manfaat Penulisan Makalah.
Kegiatan yang dilakukan , penulis asumsikan akan memberikan manfaat kepada rekan sejawat yang mengemban tugas yang sama sebagai ketua dan penanggung jawab MGMP agar dapat memanfaatkan pengalaman yang pernah dialami penulis untuk mulai memberdayakan fungsi organisasi secara optimal.
Memberi masukan kepada rekan sejawat bahwa selalu mengapload keilmuan dan prosfesionalisme guru adalah langkah yang sangat efektif untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dan guru yang memiliki kompetensi yang dapat diandalkan.
Bagi pihak dinas terkait agar mendapatkan informasi yang sesungguhnya tentang kondisi para guru yang menjadi pemandu kegiatan atau pembimbing kegiatan agar mendapatkan pelatihan untuk melatih ketrampilan sebagai pemateri yang handal.
Membantu rekan sejawat yang memiliki kesulitan dalam melakukan presentasi atau kurang memiliki keberanian atau percaya diri dapat diatasi bila kita memahami dan menguasai keilmuan kita.
BAB II
PEMBAHASAN DAN HASIL
2.1. Self Convident (rasa percaya diri).
Banyak studi yang menunjukkan bagaimana pentingnya peranan faktor psikologis dalam meningkatkan performa seorang. Fungsi faktor psikologis adalah sebagai penggerak atau pengarah untuk seseorang melakukan sesuatu . Rasa percaya diri (self confidence) menurut The American Heritage Dictionary didefinisikan sebagai “consciousness of one’s own powers and abilities” (kesadaran akan kekuatan dan kemampuan diri sendiri). Sementara Webster’s New World Dictionary mendefinisikannya sebagai “reliance on one’s own power” (bergantung pada kekuatan diri sendiri). selain itu Longman Dictionary of Contemporary English yang menyatakan bahwa jika anda punya self confidence, anda sure that you can do things well (yakin bahwa anda bisa melakukan hal-hal dengan baik) (Widarso, 2005:xi).
Dalam kamus Psikologi juga disebutkan bahwa, percaya diri adalah kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuannya yang dimiliki, serta dapat memanfaatkan secara tepat (Anshari, 1996). Menurut Lauster, kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau perasaan yakin atas kemampuan diri sendiri sehingga orang yang bersangkutan tidak terlalu cemas dalam tindakan-tindakannya, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan bertanggung jawab atas perbuatanya, hangat dan sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan berpartisipasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangannya (Lauster, 1992:4).
Oleh karena itu Lauster menggambarkan bahwa orang yang mempunyai kepercayaan diri memiliki ciri-ciri tidak mementingkan diri serndiri (toleransi), tidak membutuhkan dukungan orang lain, optimis, dan gembira.
Seorang individu yang punya rasa percaya diri akan senantiasa merasa bahwa ia adalah individu yang positif dan berpotensi bisa ikut andil sekaligus bisa bekerja sama dengan orang lain dalam pelbagai macam segmen kehidupan.
Disamping itu, ia mampu memanfaatkan rasa percaya diri yang dimilikinya untuk menyukseskan setiap aktifitas yang dilakukannya dengan baik, tepat waktu, penuh vitalitas, sekaligus mendapat sambutan baik dari orang banyak (Al-Uqshari, 2005:10).
Menurut Weinberg dan Gould, rasa percaya diri (self confidence) erat kaitannya dengan falsafah pemenuhan diri (self fulfilling prophesy) dan keyakinan diri (self afficacy). Sebagai contoh adalah seorang atlet yang memiliki rasa percaya diri yang baik maka dia percaya bahwa dirinya akan mampu menampilkan kinerja olahraga seperti yang diharapkan (Satiadarma, 2000:245).
Weinberg dan Gould juga menjelaskan bahwa rasa percaya diri memberi dampak positif pada hal-hal dibawah ini: 1) Emosi. Jika seseorang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, ia akan lebih mudah mengendalikan dirinya di dalam suatu keadaan yang menekan, ia dapa tmenguasaidirinya untuk bertindak tenang dan dapat menentukan saat yang tepat untuk melakukan suatu tindakan. 2) Konsentrasi, dengan memiliki rasa percaya diri yang tinggi,seorang individu akan lebih mudah memusatkan perhatiannya pada hal tertentu tanpa merasa terlalu
khawatir akan hal-hal lainnya yang mungkin akan merintangi rencana tindakannya. 3) Sasaran. Individu dengan rasa percaya diri yang tinggi cenderung untuk mengarahkan tindakannya pada sasaran yang cukup menantang, karenanya juga ia akan mendorong dirinya sendiri untuk berupaya lebih baik. Sedangkan mereka yang kurang memiliki rasa percaya diri yang baik cenderung untuk mengarahkan sasaran perilakunya pada target yang lebih mudah, kurang menantang, sehingga ia juga tidak memacu dirinya sendiri untuk lebihberkembang. 4) Usaha. Individu dengan rasa percaya diri yang tinggi tidak mudah putus semangat atau frustasi dalam berupaya meraih cita-citanya. Ia cenderung tetap berusaha sekuat tenaga sampai usahanya membuahkan hasil. Sebaliknya mereka yang memiliki rasa percaya diri yang rendah akan mudah patah semangat dan menghentikan usahanya ditengah jalan ketika menemui suatu kesulitan tertentu. 5) Strategi. Individu dengan rasa percaya diri yang tinggi cenderung terus berusaha untuk mengembangkan berbagai strategi untuk memperoleh hasil usahanya. Ia akan mencoba berbagai strategi dan berani mengambil resiko atas strategi yang diterapkannya. Sebaliknya mereka yang memiliki rasa percaya diri yang rendah cenderung tidak mau mencoba strategi baru, dan cenderung bertindak statis. 6) Momentum. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, seorang individu akan menjadi lebih tenang, ulet, tidak mudah patah semangat, terus berusaha mengembangkan strategi dan membuka berbagai peluang bagi dirinya sendiri. Akibatnya, hal ini akan lebih memberikan kesempatan pada dirinya untuk memperoleh momentum atau saat yang tepat untuk bertindak. Tanpa rasa percaya diri yang tinggi, usaha individu menjadi terbatas, peluang yang dikembangkannya juga menjadi terbatas, sehingga momentum untuk bertindak menjadi terbatas pula .
Menurut Cox, secara umum individu dengan kepercayaan diri yang tinggi bekerja lebih keras, ulet dalam tugas-tugas untuk periode waktu yang lama, dan mencapai pada level yang lebih tinggi. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kepercayaan diri adalah keyakinan atas kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk mencapai kesuksesan, dalam tulisan ini adalah kesuksesan seorang guru pemandu melaksanakan tugan pembimbingan atau pemanduan guru dalam diklat MGMP PKn.
Secara garis besar, terbentuknya kepercayaan diri yang kuat menurut Hakim (2002:6) terjadi melalui tahapan sebagai berikut: 1) terbentuknya kepribadian yang baik sesuai dengan proses perkembangan yang melahirkan kelebihan-kelebihan tertentu, 2) pemahaman seseorang terhadap kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dan melahirkan keyakinan kuat ntuk berbuat sesuatu dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihannya, 3) pemahaman dan reaksi positif seseorang terhadap kelemahan-kelemahan yang dimilikinya agar tidak menimbulkan rasa rendah diri atau sulit menyesuaikan diri, 4) pengalaman didalam menjalani berbagai aspek kehidupan dengan menggunakan segala kelebihan yang ada pada dirinya. Kekurangan pada salah satu proses tersebut, kemungkinan besar akan mengakibatkan seseorang mengalami hambatan untuk memperoleh kepercayaan pada dirinya sendiri. Sebagai ilustrasi penulis paparkan profil kepengurusan MGMP PKn .
2.2. Profil Kepengurusan MGMP PKn Kabupaten Tanah Datar Periode 2010/2013
| Nama / Jabatan/NIP | Pendidikan | Instansi | Masa Kerja (.....th../bln... ) | Pangkat /Golongan |
| Anitra Wahyu Noor Harlina/ Ketua MGMP Pkn 196412201999032001 | S.1 | SMPN 4 X Koto | 12 th / 1 bln | Penata Tk 1/IIId |
| Yunaidi . M. Spd. Wakil Ketua MGMP PKn 195802101982021003 | S.1 | SMPN 2 Batusangkar. | 19 th/ 6 bln | Penata /IV a |
| Rafni . SPd. Sekretaris MGMP PKn 196310131984032003 | S.1 | SMPN 2 X Koto | 17 th / 5 bln | Penata /IVa |
| Drs. Nasrizal. 196412151998021002 Bendahara MGMP PKn | S.1 | SMPN 1 Rambatan | 13 th/ 6 bln. | Penata/IVa |
| Rahmadeni .SPd 196501211989032004 Bagian Umum MGMP PKn | S.1 | SMPN 2 Sungai Tarab | 13 th /6 bln | Penata /IVa |
2.3. Profil Diklat yang Pernah Diperoleh Guru Pemandu MGMP PKn.
Tabel : 2. Diklat yang telah diikuti Pengurus MGMP PKn 2010/2013
| Nama / Jabatan/NIP | Pendidikan | Instansi | TOT yang dikuti /Tahun | |||
| Anitra Wahyu Noor Harlina/ Ketua MGMP Pkn 196412201999032001 | S I | SMPN 4 X Koto | Nasional | Propinsi | DATI II | 2000 - 2011 |
| Yunaidi . M. Spd. Wakil Ketua MGMP PKn 195802101982021003 | S I | SMPN 2 Batusangkar. | Nasional | Propinsi | DATI II | 2000-2008 |
| Rafni . SPd. Sekretaris MGMP PKn 196310131984032003 | S I | SMPN 2 X Koto | | Propinsi | DATI II | 2007-2008 |
| Drs. Nasrizal. 196412151998021002 Bendahara MGMP PKn | S I | SMPN 1 Rambatan | | Propinsi | DATI II | 2006-2008 |
| Rahmadeni .SPd 196501211989032004 Bagian Umum MGMP PKn | S I | SMPN 2 Sungai Tarab | | | DATI II | 2008-2009 |
Dua tabel diatas telah menggambarkan bahwa dari sudut atau sisi pendidikan yang dimiliki oleh tiap individu sebagai pengurus MGMP PKn TA 2010/ 2013 sudah memenuhi kriteria pendidikan yang dipersyaratkan 100% berijasah SI. Dengan masa kerja sudah diatas rata -rata 12 tahun masa kerja, serta kepangkatan yang mencapai 99% adalah golongan IV a. Artinya pengalaman dan masa kerja sudah mendukung untuk mengemban tugas sebagai pendamping dalam kegiatan Diklat MGMP PKn.
Gambaran dari berbagai diklat dan TOT yang pernah didapat oleh pengurus sekaligus guru penadamping kegiatan MGMP Pkn menunjukan informasi bahwa pengurus MGMP PKn rata-rata telah memiliki diklat yang dapat membantu kegiatan pemanduan dan telah memiliki bekal yang cukup memadai untuk dapat membagi ilmunya yang diperoleh dari diklat yang diperoleh , kepada teman sejawat dalam kegiatan MGMP PKn tahun 2010/ 2013 tersebut. Bila dikaitkan dengan pengertian dan terbentuknya self confidence adalah salah satunya dipengaruhi oleh atribut-atribut tersebut. Semestinya dengan atribut tersebut seorang guru mampu memanfaatkan segala kompetensi tersebut dengan baik.
2.4. Mekanisme Yang di Tempuh Untuk Mengoptimalkan Kinerja Kepengurusan.
Kinerja kepengurusan selalu dievaluasi setiap akhir kegiatan atau penyelenggaraan diklat MGMP. Cara yang ditempuh adalah setiap pemateri atau guru pemandu yang memaparkan materi diklat membagikan jurnal presentasi. Yang manfaatnya adalah sebagai instrumen yang akan dievaluasi sejauhmana materi dapat di cerna dan dipahami oleh peserta diklat. Instrumen lainnya adalah tagihan tugas tiap materi menjadi acuan sejauhmana pemahaman peserta terhadap materi. Program lainnya adalah setiap kegiatan diklat yang diselenggarakan oleh instansi atau lembaga terkait dengan bidang pendidikan diupayakan secara bergilir diutus pengurus untuk mengikutinya, dengan sebuah komitmen selanjutnya anggota yang diutus melakukan sosialisasi kepada rekan sejawat. Dengan demikian kinerja setiap pengurus yang sekaligus juga merupakan pemandu utama dalam diklat MGMP dapat diukur.
2.5.Strategi Pengembangan Self Convident (rasa percaya diri).
Pada kegiatan diklat MGMP PKn tahun 2011 guru pemandu yang akan memaparkan materi sebelum tampil melakukan persiapan terhadap materi yang di bahas bersama dengan rekan sejawat yang tergabung dalam kegiatan MGMP PKn. Kemudian sesama calon pemateri yang akan tampil berdiskusi tentang materi apa yang akan disampaikan. Mulai dari pengumpulan materi diklat dilakukan secara seksama, tanpa adanya bimbingan dari penulis. Setelah semua instrumen yang dibutuhkan tersiapkan sampai pada pembuatan Power Point tayangan, maka penulis melakukan cros cek atau analisis terhadap materi. Hal tersebut dilaksanakan 1 hingga 2 hari pertemuan.
Disini guru pemateri mulai diarahkan bagaimana sistimatika penyajian yang baik, kemudian diarahkan untuk membekali diri dengan literatur yang sesuai dengan materi yang akan dipaparkan. Bagaimana menggunakan IT atau Power Ponit yang tepat, membuat presentasi yang baik dari sisi tampilan . Menambahkan materi yang kurang “kaya” dan merevisi yang kurang tepat.
Setelah secara material atribut untuk presentasi sudah dirasakan memadai maka menganjurkan kepada rekan guru bagaimana mengantisipasi agar segala persiapan fisik yang telah kita buat tidak terjadi kesalahan atau kendala ketika akan di tampilkan. Maka solusi yang penulis berikan adalah dengan memberi informasi tata cara mem – beck-up data menjadi 3 alternatif penyimpanan, yaitu didalam Flashdisk, di IT atau Notebook, dan didalam Copy CD.
2.6.Model Pengembangan Self Convident Melalui MGMP PKn
Langkah yang telah dilakukan diatas tidak begitu saja dianggap telah selesai dan siap untuk dipresentasikan, tapi masih dibutuhkan 1 langkah lagi untuk mendorong tumbuhnya rasa percaya diri menjalankan tugas pemanduan.
Langkah terakhir inilah yang menjadi kunci keberhasilan penulis dalam membangun self confidence guru pemandu. Masing-masing rekan sejawat yang telah memiliki persiapan secara matang tersebut diarahkan pada satu kegiatan secara bergantian saling mempresentasikan semua materi yang telah dirancang. Masing-masing tentunya telah penulis bekali dengan suatu instrumen untuk melakukan penilaian terhadap presentasi yang dilakukan oleh rekan sejawat lainnya.
Penulis pada kegiatan ini berperan sebagai pengamat dan mediator dari aktifitas tutor sebaya antar sesama guru calon pemandu tersebut. Serta memfasilitasi berbagai kendala atau kejanggalan yang terjadi selama presentasi tersebut berlangsung.
Selanjutnya dilakukan evaluasi dari penampilan setiap guru yang melakukan kegiatan pemanduan, serta memberikan saran dimana selama presentasi tersebut ada yang kurang tepat, dan mencatat semua keberhasilan dari tampilan masing-masing guru.
Mungkin teknik ini hampir sama dengan suatu acara penjurian pada “Program Tayangan Televisi Indonesia Mencari Bakat”. Akan tetapi pada kegiatan ini setiap guru calon pemandu berhak menilai dan memberi masukan terhadap rekannya, begitu juga sebaliknya. Kegiatan ini berlangsung selama 16 minggu atau 16 kali pertemuan sesuai dengan jadwal MGMP PKn yang telah ditetapkan.
Ketika rekan guru tersebut benar-benar melakukan pemanduan , maka penulis tetap menjadi pendamping. Karena didalam proses MGMP selalu dilakukan pemberian kesempatan tanya jawab, sharing antar pemandu dan guru peserta, terkadang ada beberapa pertanyaan yang harus penulis luruskan atau pembenaran jawaban, tentunya terlebih dahulu pertanyaan tersebut menjadi tema diskusi didalam kegiatan, maka pelurusan konsep yang memang harus dilakukan oleh penulis tetap menjadi tanggung jawab penulis.
2.7. Hasil Dari Kegiatan.
Pada pelaksanaan awal memang masih terlihat kegugupan dari calon guru pemadu karena yang dihadapi dalam perr-teaching adalah bukan rekan sesama pengurus . Namun dari 4orang pengurus MGMP PKn yang diberi tugas pemanduan dan diberikan program pembimbingan selama kegiatan tersebut ternyata hanya 2 orang yang benar-benar memiliki keberanian atau rasa percaya diri yang optimal ketika menjalankan kegiatan pemanduan.
Dua rekan guru tersebut adalah Ibu Rafni dari SMPN 2 X Koto dan Ibu Rahmadeni dari SMPN 2 Sungai Tarab. Dari 4 rekan maka 2 orang guru tersebut selama melakukan kegiatan memang terlihat memiliki kemaunan yang positif untuk berhasil. Berbagai atribut yang melekat pada pengertian self convidence memang lebih terlihat pada 2 rekan guru tersebut, seperti yang dikemukakan oleh Lusther bahwa “kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau perasaan yakin atas kemampuan diri sendiri sehingga orang yang bersangkutan tidak terlalu cemas dalam tindakan-tindakannya, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan bertanggung jawab atas perbuatanya, hangat dan sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan berpartisipasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangannya”.
Demikian juga pendapat yang dikemukakan oleh Al-Uqshari bahwa : “ seseorang yang memiliki self confidence ia akan mampu memanfaatkan rasa percaya diri yang dimilikinya untuk menyukseskan setiap aktifitas yang dilakukannya dengan baik, tepat waktu, penuh vitalitas, sekaligus mendapat sambutan baik dari orang banyak” .
Setelah kegiatan diklat selesai dilaksanakan maka pengurus kembali melakukan rapat organisasi untuk menyusun laporan ahir kegiatan khususnya pertanggung jawaban penggunaan dana atau laporan keuangan. Saat yang demikian penulis manfaatkan untuk melakukan diskusi tentang bagaimana perasaan rekan sejawat setelah presentasi dan direspon positif oleh rekan guru peserta diklat. Rata-rata teman sejawat tersebut memiliki kompetensi untuk menata emosi, berkeinginan untuk menambah pengalaman agar lebih sempurna melalui membaca literasi bagaimana menjadi presenter yang pesannya dapat ditangkap dengan mudah oleh orang lain.Pada prinsipnya secara langsung rekan guru yang telah penulis berikan kepercayaan dalam kegiatan MGMP PKn pada tahun 2011 ini berkeinginan untuk berlatih kembali untuk kegiatan diklat MGMP PKn pada tahun berikutnya (2011/2012).
Bagi 1 orang rekan sejawat yang belum berhasil bukannya belum memiliki self convidence yang tinggi, akan tetapi rangkap tugas dan jabatan yang menyebabkan guru tersebut tidak dapat melanjutkan kegiatan pendampingan, untuk tugasnya tersebut maka penulis ambil alih sehingga kegiatan tidak tersendat-sendat penyelenggaraannya.
BAB III
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
3.1.Kesimpulan.
Berbagai kesimpulan yang dapat penulis jabarkan berdasarkan latar belakang, pembahasan dan hasil kegiatan pengembangan self convidence guru pemandu pada program diklat MGMP PKn tahun 2011 dapat disimpulkan tentang beberapa hal sebagai berikut :
a) Self Convidence semesti telah menjadi milik guru karena kesehariannya profesi guru adalah selalu berinteraksi dan melakukan presentasi didepan siswanya.
b) Dengan rasa percaya diri yang kuat maka tugas-tugas profesionalisme guru dapat dilakukan dengan lancar dan segala hambatan dapat disikapi dengan lebih baik, karena seseorang yang telah memiliki self convidence maka ia memiliki kontrol diri yang baik pula.
c) Rasa percaya diri yang dimiliki guru pemandu harus selalu diasah sehingga mencapai optimal.
d) Dengan penyelenggaraan kegiatan tersebut maka kaderisasi dan optimalisasai kinerja organisasi dapat terwujud.
e) Kegiatan ini memberi kesan positif dimata pengamat pendidikan yang selalu memberikan kritikan terhadap kinerja organisasi atau MGMP , dimana anggapan MGMP hanyalah wadah reunian antar guru mata pelajaran dapat direvisi.
f) Adanya rumor yang berkembang atau penilaian dari berbagai pihak bahwa dalam setiap kegiatan Program Diklat MGMP baik pada MGMP PKn , Program BERMUTU , atau MGMP mata pelajaran lain terkesan adanya kemunculan dari “nara sumber dadakan” apakah narasumber tersebut berasal dari Kepala Sekolah atau Pengawas atau pihak tertentu , karena tidak memiliki kesiapan materi dan teknik komonikasi yang memadai , dapat ditepis , meski hanya pada tataran kegiatan MGMP PKn.
g) Melalui kegiatan ini maka program dan tujuan adanya MGMP Pkn adalah untuk memberikan kesempatan guru anggota mengembangkan ketrampilannya menjadi terwujud.
3.2. Rekomendasi
a) Adanya bimbingan dan arahan dari dinas terkait untuk lebih mengoptimalkan kegiatan ini, seperti melatih dan memberi pengayaan pada guru-guru pemandu dalam kelompok MGMP dengan memberi program “Presentasi Yang Efektif”.
b) Membekali guru pembimbing dan guru pemandu kegiatan MGMP Pkn khususnya dan mata pelajaran lain pada umumnya, kegiatan yang sama sebagaimana pembekalan yang dilakukan untuk guru pemandu MGMP BERMUTU.
c) Bagi rekan guru yang tergabung dalam kelompok kerja diklat BERMUTU berbagilah ilmu kepada guru Pemandu MGMP diluar program BERMUTU, karena mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan 4 mata pelajaran saja.
d) Sebagai mata pelajaran yang mendapatkan fasilitas dana replika atau sharing program MGMP BERMUTU, MGMP PKn masih memiliki berbagai kelemahan baik dalam sistim penyelenggaraan maupun program materi diklatnya, maka untuk itu mohon kiranya berikan bimbingan dan arahan yang memadai. Sehingga baik program MGMP BERMUTU ataupun program sharing memiliki kualitas yang sama.
DAFTAR PUSTAKA
1. H. Anshari. 1996. Kamus Psikologi. Surabaya: Usaha Nasional
2. Jess Feist and Gregory J.Feist. 2008. Theories of Personality. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
3. Setiadarma .2005. Tesis Membangun Rasa Percaya Diri Berprestasi .
4. Thursan Hakim . 2002. Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri. Jokyakarta: Torren Book
5. Widarso Wishnubroto. 2005. Sukses Membangun Rasa Percaya Diri “Self- Confidence”. Jakarta. Gramedia
6. Peter Lauster . 2002. Tes Kepribadian. Jakarta: Bumi Aksara.